Sabtu : 18 September 2021

PLN: 58% Gardu Listrik di Sulbar Telah Berfungsi Kembali

20 Januari 2021 - by kanallima.com - Leave a Comment
007DAD2E-EB8F-450A-B32B-8B45948B02A5_cx0_cy2_cw0_w1023_r1_s

Upaya pemulihan jaringan listrik masih terus dilakukan oleh PLN padam pasca gempa bumi di Sulawesi Barat pada Jumat (15/1). Sejauh ini, 58 persen gardu listrik dari 873 gardu listrik yang terdampak, sudah kembali berfungsi.

Perusahaan Listrik Negara (PLN) berupaya memulihkan aliran listrik terdampak bencana pasca gempa susulan dengan magnitudo 6,2 yang mengguncang Mamuju dan Majene, Sulawesi Barat (Sulbar) pada Jumat (15/01) dini hari.

Kepada VOA, Mundhakir, Senior Manager SDM dan Umum PLN Unit Wilayah Induk (UWI) Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Barat mengatakan hingga Sabtu (16/1) pagi, PLN berhasil menghidupkan kembali 528 buah gardu atau 58 persen dari total 872 gardu terdampak. Kini sekitar 54.500 pelanggan dapat kembali menikmati listrik.

“PLN terus melakukan penormalan kembali agar masyarakat bisa memenuhi kebutuhan listrik pasca gempa. Kami menyadari listrik menjadi kebutuhan utama di tengah kondisi seperti ini,” kata Mundhakir dihubungi Minggu (17/1).

Kata Mundhakir, PLN secara bertahap telah berhasil memulihkan aliran listrik untuk sejumlah objek vital yang mengalami pemadaman pasca gempa bumi.

Objek-objek vital tersebut, antara lain, papar Mundhakir, RSUD Kabupaten Mamuju, posko-posko pengungsian, markas Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Barat, posko Komando Distrik Militer (Kodim), Bandar Udara Tampa Padang, Telkom serta sebagian penerangan jalan umum Kota Mamuju dan beberapa daerah lainnya.

“Kita terus upayakan agar listrik kembali normal di Sulawesi Barat,” tegasnya.

Para pengungsi antre di Stadion Manakarra setelah gempa bumi kuat mengguncang Mamuju, Sulawesi Barat, Minggu, 17 Januari 2-21. (Foto: Sigid Kurniawan/Antara via Reuters)

Hingga kini PLN masih berupaya memulihkan aliran listrik yang padam, antara lain di Kecamatan Talapang, Talapang Barat, Simkep, sebagian Mamuju, sebagian Kecamatan Malunda dan Ulumanda. Besarnya magnitudo gempa mengakibatkan beberapa tiang dan gardu listrik roboh dan beberapa infrastruktur lain terganggu.

Upaya pemulihan kelistrikan itu juga melibatkan dukungan personel PLN dari berbagai daerah lain.

PLN juga memasang VSAT atau stasiun penerima sinyal dari satelit di Rumah jabatan Gubernur Sulbar. Alat ini akan digunakan untuk membantu komunikasi dan koordinasi pemerintah provinsi dengan pemerintah pusat, termasuk presiden.

Korban Tewas Bertambah

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan hingga Minggu (17/1), pukul 20.00 WIB, jumlah korban tewas dalam peristiwa gempa bumi magnitudo 6,2 di Sulawesi Barat kembali bertambah menjadi 81 orang.

Raditya Jati, Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB mengatakan rinciannya 70 orang meninggal di Kabupaten Mamuju dan 11 orang di Kabupaten Majane.

Dia juga menginformasikan berdasarkan data Pusat Pengendali Operasi BNPB per 18 Januari pukul 08.00 WIB, jumlah warga yang mengungsi sebanyak 19.435 orang, dengan rincian 15.014 orang mengungsi di Kabupaten Mamuju dan 4.421 orang mengungsi di Kabupaten Majane.

 
Warga mengungsi di sebuah rumah sederhana di perbukitan dusun Buttu Lombongan, Desa Tammerodo Utara, Kec. Tammerodo Sendana, Kabupaten Majene, Minggu, 17 Januari 2021. (Foto: Nurwana)

Kesulitan Makanan

Tiga hari pasca gempa kuat yang memaksa lebih dari 15.000 orang pengungsi, warga mulai mengalami keterbatasan bahan makanan dan minuman. Sebaran lokasi pengungsian di banyak lokasi menyebabkan pasokan logistik bagi para penyintas belum merata.

Nurwana kepada VOA mengatakan kebutuhan bahan makanan sangat mendesak termasuk kebutuhan tenda, selimut termasuk perlengkapan bayi.

“Kesulitannya sebenarnya lebih kepada stok makanan dan kebutuhan bayi khususnya di posko desa saya Pak. Ada beberapa ibu yang baru melahirkan yang membutuhkan popok, susu dan lain sebagainya. Intinya stok makanan,” ujar perempuan berusia 24 tahun, warga desa Tammerodo Utara, Kabupaten Majene.

 
 

Desa itu berjarak satu setengah jam perjalanan darat dari ibu kota Kabupaten. Nurwana mengatakan melihat banyak kendaraan yang memuat bantuan yang melewati desa mereka, tetapi tidak ada yang berhenti untuk disalurkan bagi warga di desa itu.

“Kami kan di sini hanya kayak menumpang di rumah warga dan bangun tenda-tenda darurat. Kami tidak tahu kondisi kami hari ini bagaimana. Mungkin hari ini kami masih bisa makan tapi esok kami tidak tahu,” ujar Nurwana sambil menahan tangis.

Nurwala menuturkan dia dan para pengungsi juga dihadapkan pada cuaca ekstrem oleh hujan yang terjadi hampir setiap hari. [yl/em/ft]/voa

berita terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *