Senin : 17 Januari 2022

Sahabat Pongo: Novel Cerita Keseruannya Anak-Anak di Kutai Barat.

15 Januari 2022 - by kanallima.com - Leave a Comment
IMG-20220115-WA0001

Sahabat Pongo adalah novel yang bercerita tentang keseruannya anak-anak di Kutai Barat. Novel ini bercerita tentang kakak beradik yang berteman dengan seekor anak orang utan yang ditinggal mati induknya akibat dibunuh oleh pemburu orang utan.

Novel ini ditulis oleh Joy Suhartono, novel fiksi yang berlatar belakang kondisi orang utan yang sudah hampir punah. Keberadaan orang utan yang semakin hari semakin langka diakibatkan terjadinya kegiatan pembantaian orang utan yang terjadi di Indonesia. Kelangkaan orang utan ini bukan hanya karena disebabkan akibat pembantaian orang utan saja, tapi adanya penyelundupan orang utan dan  perdagangan orang utan yang ada di Indonesia. Sementara hutan yang menjadi tempat tinggalnya semakin berkurang akibat perambahan hutan dan banyaknya lahan-lahan yang dibuka karena kegiatan pertambangan batubara dan perluasan perkebunan-perkebunan kelapa sawit. Dan juga disebabkan sering terjadinya kebakaran hutan yang ada di Kalimantan Timur. Kondisi hutan kita yang sudah semakin hari semakin parah. Membuat orang utan kehilangan rumah tempat tinggalnya, dan menyebabkan  orang utan menjadi susah berkembang biak. Sementara program pelestarian orang utan yang ada masih belum maksimal.

Kondisi inilah yang menarik perhatian penulis dan menuangkannya ke dalam sebuah cerita. Untuk dapat menggugah hati kita untuk meningkatkan kepedulian kita terhadap pelestarian orang utan yang ada di Indonesia.  Penulis membuatnya ke dalam cerita yang menarik untuk dibaca oleh anak-anak di Indonesia agar memiliki kepedulian terhadap pelestarian orang utan di Indonesia.

Pertemanan antara kedua kakak beradik dengan seekor anak orang utan yang menjadi tokoh utama dalam cerita ini menjadi sangat menarik untuk dibaca. Pertemanan antara kedua kakak beradik  dengan seekor anak orang utan yang banyak suka dan dukanya. Dengan segala keceriaan dan kesedihannya. Menjadikan novel ini sangat menarik untuk dibaca.  

Bukan hanya merupakan cerita tentang persahabatan antara manusia dan hewan saja. Tapi juga mengandung unsur-unsur pendidikan kepada anak-anak tentang program pelestarian orang utan yang sudah semakin langka. Persahabatan antara kedua kakak beradik yang sangat mencintai sahabat mereka ini, juga sering terjadi di masyarakat kita. Di mana masih ada masyarakat yang menjadikan orang utan sebagai hewan peliharaan mereka di rumah.  

Novel pertemanan kedua kakak beradik Simpun dan Bungai yang menemukan seekor anak orang utan yang ditinggal mati induknya akibat dibunuh oleh pemburu orang utan saat sedang bermain di hutan.  Mereka kemudian membawa anak orang utan itu pulang ke rumah dan  merawat anak orang utan itu. Anak orang utan itu mereka beri nama  “Pongo”.  Hampir setiap hari mereka bersama anak orang utan tersebut, dari bermain sampai membawa anak orang utan itu ke sekolah. Meskipun anak oran utan itu sering menimbulkan masalah. Namun tiada hari tanpa bersama sahabat mereka itu.

Orang utan adalah satwa yang dilindungin, karena sudah hampir punah.  Hingga suatu hari petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) melihat pertemanan kedua kakak beradik itu dengan anak orang utan itu. Petugas itupun mengikuti kedua kakak beradik yang hendak pulang ke rumah itu. Setelah mengetahui rumah kedua kakak beradik itu petugas itu pergi meninggalkan mereka. Tak beberapa lama kemudian petugas itu datang ke rumah mereka bersama rombongan petugas-petugas Kantor BKSDA yang datang untuk menyita anak orang utan itu. Terjadi pertengkaran hebat antara petugas BKSDA dengan kedua kakak beradik itu. Meski alot, petugas BKSDA itupun akhirnya berhasil menyita anak orang utan itu dan membawanya pergi.

Kedua kakak beradik itu berusaha mencari ke mana sahabatnya dibawa, dan mereka berencana untuk mengambilnya lagi. Hingga suatu hari mereka menemukan jejak kedua pemburu orang utan yang sedang berperahu menuju kesebuah tempat. Apakah mereka berhasil membekuk kedua pemburu orang utan itu.  Novel ini diterbitkan oleh Guepedia dan sudah dijual di Tokopedia.com, Bukalapak.com dan di Guepedia.com dengan harga Rp. 107.000.

 “ Harapan saya novel ini bisa menarik produser film sehingga dapat diankat kelayar lebar, dan bisa menjadi sarana untuk mempromosikan pariwisata Kutai Barat dan Kalimantan Timur,“ tegas Suhartono.(KL)

berita terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *